Pages

Wednesday, April 28, 2010

Belajar pada bentang alam indonesia-ku

tulisan saya yang ini cuma ikutan copas tulisan orang lain yang suka saya dapetin di email..
tapi entah kenapa sangat ingin membaginya.. sekedar pengetahuan buat yang belum pernah baca..
walaupun akan ada sedikit kata-kata lain yang akan saya tambahkan sana-sini..

sebagai orang-orang yang menghuni bumi indonesia,
saya rasa kita perlu mengetahui lebih jauh tentang bentang alam indonesia,
lebih-lebih tentang gunung-gunung yang berjajar dari ujung barat hingga ujung timur..

Baru-baru ini para ilmuwan berhasil menguak misteri mengapa gunung-gunung tertinggi di dunia ini berada di rantai khatulistiwa. Disebutkan itu semua berkaitan dengan iklim. Mereka menyimpulkan iklim yang lebih dingin menyebabkan proses erosi menjadi lebih besar dibandingkan dengan yang dahulu telah diketahui.
Sebagaimana diberitakan The Guardian pekan lalu, pada sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature, David Egholm dari Universitas Aarhus, Denmark menunjukkan bahwa ketinggian gunung lebih dipengaruhi oleh es serta cakupan sungai es dari pada sebuah kejadian tektonik.

Gunung terbentuk akibat tabrakan antar lempengan kontinental yang mendorong daratan naik. Tumbuhnya sebuah gunung terjadi sebesar 10 mm per tahun di tempat-tempat seperti New Zealand dan sebagian di Himalaya, tetapi biasanya pertumbuhan terjadi sebanyak 2-3 mm per tahun.

Pada iklim yang lebih dingin, jumlah salju pada gunung bergerak turun dan mengakibatkan terjadinya erosi di ketinggian yang lebih rendah. Pada tempat yang lebih dingin jauh dari garis khatulistiwa, ia menemukan erosi yang diakibatkan oleh salju dan es menyamai pertumbuhan yang diakibatkan oleh benturan lempengan bumi.
Analisis tersebut menyebutkan gunung memiliki wilayah daratan yang tertutup oleh lapisan salju, setelah lapisan salju tersebut terkikis, pada umumnya gunung hanya tumbuh sekitar 1.500. Jadi ketebalan dari lapisan ini sangat bergantung dengan keadaan iklim dan garis lintang yang menentukan ketinggian mereka.

Pada ketinggian yang lebih rendah, di mana kondisi atmosfir lebih hangat dan lapisan salju yang tebal seperti di sekitar khatulistiwa, lapisan salju biasanya setebal 5.500 m di puncak ketinggiannya. Jadi tinggi gunung dapat mencapai 7.000 m, jelas Egholm. Dia menggunakan peta radar dataran bumi yang diciptakan oleh NASA pada 2001, untuk mengukur ketinggian gunung yang ada di bumi dalam satu waktu.
Sumber: Global

so, now we know why our lovely land have great and high mountain...
ada yang udah pernah menyambangi salah satu dari sekian banyak gunung di negri ini?
jujur, menngunjungi salah satu atau beberapa dari gunung-gunung itu selalu ada dalam rencana-rencana saya..
tapi apa mau dikata, rencana masi saja tinggal dalam secarik kertas dalam catatan kecil segala impian saya,
dalam sebox storage ide dibenak saya.. ada sedikit iri tersisa saat mengetahui adik saya satu-satunya bisa menyambangi Semeru dan juga Bromo...huhuhuhu...
mungkin suatu saat akan saya laksankan,.. may...be.. ^^

well, buat saya, dan yang belum pernah mengunjungi gunung-gunung yang ada dinegeri ini,..
akan saya bagi sedikit cerita, tak ada salahnya sekedar membaca dan menjadi pengetahuan baru bagi yang belum tau, atau mengingat kembali simpanan ilmu pengetahuan yang pernah singgah di kognisi kita,.. ^^
kali ini saya akan bercerita tentang 5 gunung yang memuntahkan abu vulkanik paling dahsyat di dunia,..

and,...let the story begin...

Sekarang mari kita jalan-jalan ke ujung barat pulau sumatra..
bukan...bukan..bukan Aceh..lebih tepatnya saya akan mengajak anda mengunjungi Sumatra Utara.
saya rasa, tidak ada yang tidak mengenal Danau toba bukan? 
dan YA! saya akan bercerita asal-muasal Danau Toba...

1. Gunung Toba

Sebelum menjadi sebuah Danau, Toba adalah sebuah gunung berapi aktif hingga akhirnya meledak pada sekitar 840 juta tahun lalu dan kemudian membuat sebuah kaldera terbesar di dunia hingga kemudian membentuk sebuah Danau. Diketahui bahwa begitu banyaknya materi magma yang keluar pada letusan membuat gravitasi berkurang sehingga magma terus menerus keluar ke permukaan sehingga terbentuklah Pulau Samosir. Bagi beberapa orang, Pulau Samosir ini disebut juga sebagai “tutup botol” atau “sumbat” dari Gunung Toba. Lalu letusan gunung di Danau Toba membuat berhamburannya 1000 kilometer kubik abu vulkanik dan bebatuan yang sampai mencapai atmosfir bumi hingga menutupi sinar matahari bahkan sampai bertebaran ke hamper seluruh penjuru dunia. Muntahan abu yang menyentuh atmosfir ini sampai-sampai membuat perubahan iklim di dunia. Salah satu perubahan iklim yang terjadi adalah karena sinar matahari yang tertutup dan membuat dunia menjadi dingin dan beku seperti pada zaman es dengan suhu hingga minus 15 derajat celcius selama puluhan tahun. Tak ada yang bisa menandingi bencana super besar ini kecuali hantaman asteroid raksasa dari luar angkasa. Dalam hitung-hitungan seismologi, ledakan gunung di Danau Toba terjadi tiap 2000 tahun sekali.


sumber: David Silalahi dalam milis JPERS dan 



selama puluhan tahun bumi ini mengalami suhu minus 15 derajat celcius. hmm,.. i can't imagine if its happen right now... berapa manusia yang meninggal? berapa vegetasi yang punah? berapa banyak binatang yang hilang?  astghfirullah...

oke, kita tinggalkan pulau Sumatra dulu, 
sekarang mari kita melanjutkan perjalanan ke pulau Sumbawa Besar di Nusa Tenggara.
disini, terdapat sebuah gunung yang letusan abu vulkaniknya juga tak kalah dahsyat. bahkan didunia Gunung ini mendapati peringkat 3 (ini dengan tidak memasukkan hitungan gunung Toba ya...) setelah Gunung VESUVIUS di Pompeii. 

2. Gunung Tambora

Gunung raksasa setinggi 4300 meter telah 'melakukan' serangkaian ledakan dari April Juni di tahun1815. ledakan vulkanik Gunung Tambora pada tanggal 5 April–15 April 1815. Dan mengguncang dunia dengan efek sesudahnya yang mengubah stratosfir dan kelaparan yang buruk hingga ke US dan Eropa pada abad 19. Dan setahun sesudahnya,1816, dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. pada Mei 1816 frost (pembekuan) mematikan sebagian besar tanaman yang telah ditanam, dan pada bulan Juni dua badai salju mengakibatkan banyak orang yang meninggal. Pada Juli dan Agustus, danau dan sungai yang membeku dengan es terjadi hingga di Pennsylvania yang jauh di selatan. Perubahan temperatur yang cepat dan dramatis lazim terjadi, dengan temperatur yang bergeser dari yang normal dan di atas normal pada musim panas, yaitu 35°C hingga hampir membeku hanya dalam beberapa jam saja. 

Letusan Tambora ini juga menyebabkan Hongaria mengalami salju coklat. Italia mengalami sesuatu yang serupa, dengan salju merah yang jatuh sepanjang tahun. Hal ini diyakini disebabkan oleh debu vulkanik di atmosfer.

Eropa, yang masih memulihkan diri dari Perang Napoleon, menderita karena kekurangan makanan. Kerusuhan-kerusuhan karena berebut makanan terjadi di Britania Raya dan Prancis dan gudang-gudang gandum dijarah. Kekerasan yang paling parah terjadi di Swiss yang tidak mempunyai pelabuhan; di sana kelaparan menyebabkan pemerintah mengumumkan keadaan darurat nasional.

Badai yang hebat, curah hujan yang tidak normal, dan banjir di sungai-sungai utama Eropa (termasuk Sungai Rhein dihubungkan dengan peristiwa ini. Demikian pula dengan frost yang terjadi pada Agustus 1816.

Sebuah film dokumenter BBC yang menggunakan angka-angka yang dikumpulkan di Swiss memperkirakan bahwa tingkat kematian pada 1816 itu dua kali lipat daripada rata-rata tahun yang lain, dan memberikan angka kematian seluruhnya berjumlah 200.000 orang.


banyak cara Tuhan untuk membinasakan kaum-kaum sebelum kita yang mungkin telah menyimpang dari ajaran agama Tuhan yang Esa. inilah yang patut kita renungkan....

baiklah,..setelah NTT, 
izinkan saya mengajak anda balik lagi ke lautan kecil yang biasa kita sebut selat. 
saya sering kali melintasi selat ini semenjak saya harus menuntut ilmu di pulau Jawa. 
Yep! Selat Sunda,..
di Selat ini terdapat anak-anak Gunung yang muncul ke permukaan laut,. 
kita menyebutnya,

3. Gunung Krakatau

Agustus 1883,sebuah rangkaian ledakan dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan 13000 kali lebih besar dari bom Hiroshima. Ledakannya terdengar hingga ke Perth, australia. Muntahan lebih dari 21 kilometer kubik batu dan debu membumbung hingga setinggi 70mil. Secara resmi,lebih dari 37000 orang tewas, namun dengan tsunami yang ditimbulkannya, korban sepertinya bisa lebih besar lagi. 

see?? ga ada yang belum kenal dengan gunung ini bukan? nah yang kita masih sering dengar kabarnya hingga saat ini adalah anak-anak dari gunung krakatau purba. 

bagaimana ceritanya ada gunung krakatau purba? 
well, here's the explanation...

Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 WIB adalah saat terakhir penduduk di sekitar Selat Sunda melihat Matahari tengah naik ke puncaknya. Setengah jam kemudian, mereka meregang nyawa diseret gelombang laut setinggi sampai 40 meter…Jumlah seluruhnya 36.417 orang berasal dari 295 kampung di kawasan pantai Banten dan Lampung. Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, penduduk sejauh sampai Jakarta dan Lampung tak melihat lagi Matahari – gelap-gulita.
Apa yang terjadi di hari yang seperti kiamat itu adalah letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda.Suara letusannya terdengar sampai sejauh 4600 km dan di dengar di kawasan seluas 1/8 permukaan Bumi. Telah banyak tulisan dan film di seluruh dunia dibuat tentang kedahsyatan letusan Krakatau ini. University of North Dakota Volcanic Explosivity Index (VEI) mencantumkan dua gunungapi di seluruh dunia yang letusannya paling hebat dalam sejarah moderen : Krakatau 1883 (VEI : 6) dan Tambora 1815 (VEI : 7). Dua-duanya ada di Indonesia, tak jauh dari kita. Semoga kita, bangsa Indonesia – terlebih yang menamakan dirinya geologist, mengenal dengan baik dua gunungapi ini. Saat ini, di Selat Sunda ada Gunung Anak Krakatau (lahir Desember 1927, 44 tahun setelah letusan Krakatau 1883 terjadi), yang dikelilingi tiga pulau : Sertung (Verlaten Eiland, Escher 1919), Rakata Kecil (Lang Eiland, Escher,1919) dan Rakata. Berdasarkan penelitian geologi, ketiga pulau ini adalah tepi-tepi kawah/kaldera hasil letusan Gunung Krakatau (Purba, 400-an/500-an AD). Escher kemudian melakukan rekonstruksi berdasarkan penelitian geologi batuan2 di ketiga pulau itu dan karakteristik letusan Krakatau 1883, maka keluarlah evolusi erupsi Krakatau yang menakjubkan (skema evolusi Krakatau dari Escher ini bisa dilihat di buku van Bemmelen, 1949, 1972, atau di semua buku moderen tentang Krakatau).

B.G. Escher berkisah, dulu ada sebuah gunungapi besar di tengah Selat Sunda, kita namakan saja KRAKATAU PURBA yang disusun oleh batuan andesitik. Lalu, gunungapi ini meletus hebat (kapan ? ada dokumen2 sejarah tentang ini, ditulis di bawah) dan membuat kawah yang besar di Selat Sunda yang tepi-tepinya menjadi pulau Sertung, Rakata Kecil dan Rakata. Lalu sebuah kerucut gunungapi tumbuh berasal dari pinggir kawah dari pulau Rakata, sebut saja gunungapi Rakata, terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunungapi muncul di tengah kawah, bernama gunungapi Danan dan gunungapi Perbuwatan. Kedua gunungapi ini kemudian menyatu dengan gunungapi di Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunungapi inilah yang disebut KRAKATAU. Tahun 1680, gunung Krakatau meletus menghasilkan lava andesitik asam. Tanggal 20 Mei 1883, setelah 200 tahun tertidur, sebuah erupsi besar terjadi, dan terus-menerus sampai puncak erupsi terjadi antara 26-28 Agustus 1883 (Inilah letusan Krakatau 1883 yang terkenal itu). Erupsi ini telah melemparkan 18 km3 batuapung dan abu volkanik. Gunungapi Danan dan Perbuwatan hilang karena erupsi dan runtuh, dan setengah kerucut gunungapi Rakata hilang karena runtuh, membuat cekungan kaldera selebar 7 km sedalam 250 meter. Desember 1927, ANAK KRAKATAU muncul di tengah-tengah kaldera.
Seberapa besar dan kapan erupsi KRAKATAU PURBA terjadi ? Tulisan2 yang berhasil dikumpulkan (buku2 dan paper2 lepas) menunjuk ke dua angka tahun : 416 AD atau 535 AD. Angka 416 AD adalah berasal dari sebuah teks Jawa kuno berjudul ”Pustaka Raja Purwa” yang bila diterjemahkan bertuliskan : ”Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada goncangan Bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Lalu datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra” . Di tempat lain, seorang bishop Siria, John dari Efesus, menulis sebuah chronicle di antara tahun 535 – 536 AD, “ Ada tanda-tanda dari Matahari, tanda-tanda yang belum pernah dilihat atau dilaporkan sebelumnya. Matahari menjadi gelap, dan kegelapannya berlangsung sampai 18 bulan. Setiap harinya hanya terlihat selama empat jam, itu pun samar-samar. Setiap orang mengatakan bahwa Matahari tak akan pernah mendapatkan terangnya lagi”. Dokumen di Dinasti Cina mencatat : ”suara guntur yang sangat keras terdengar ribuan mil jauhnya ke baratdaya Cina”. (Semua kutipan diambil dari buku Keys, 1999 : Catastrophe : A Quest for the Origins of the Modern Worls, Ballentine Books, New York).

Itu catatan2 dokumen sejarah yang bisa benar atau diragukan. Tetapi, penelitian selanjutnya menemukan banyak jejak-jejak ion belerang yang berasal dari asam belerang volkanik di temukan di contoh-contoh batuan inti (core) di lapisan es Antarktika dan Greenland, ketika ditera umurnya : 535-540 AD. Jejak2 belerang volkanik tersebar ke kedua belahan Bumi : selatan dan utara. Dari mana lagi kalau bukan berasal dari sebuah gunungapi di wilayah Equator ? Kumpul-kumpul data, sana-sini, maka semua data menunjuk ke satu titik di Selat Sunda : Krakatau ! Adalah letusan KRAKATAU PURBA penyebab semua itu.

Letusan KRAKATAU PURBA begitu dahsyat, sehingga dituduh sebagai penyebab semua abad kegelapan di dunia. Penyakit sampar Bubonic (Bubonic plague) terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan telah mengurangi jumlah penduduk di seluruh dunia. Kota-kota super dunia segera berakhir, abad kejayaan Persia purba berakhir, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Bizantium terjadi, peradaban South Arabian selesai, berakhirnya rival Katolik terbesar (Arian Crhistianity), runtuhnya peradaban2 purba di Dunia baru – berakhirnya negara metropolis Teotihuacan, punahnya kota besar Maya Tikal, dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Kata Keys (1999), semua peristiwa abad kegelapan dunia ini terjadi karena bencana alam yang mahabesar, yang sangat mengurangi cahaya dan panas Matahari selama 18 bulan, menyebabkan iklim global mendingin.
K. Wohletz, seorang ahli volkanologi di Los Alamos National aboratory, mendukung penelitian David Keys, melalui serangkaian simulasi erupsi KRAKATAU PURBA yang terjadi pada abad keenam Masehi tersebut. Artikelnya (Wohletz, 2000 : Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Changes in the Sixth Century ? – If So, Was Krakatau Volcano the Culprit ? EOS Trans American Geophys Union 48/81, F1305) menunjukkan simulasi betapa dahsyatnya erupsi ini. Inilah beberapa petikannya. Erupsi sebesar itu telah melontarkan 200 km3 magma (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang 18 km3), membuat kawah 40-60 km, letusan hebat terjadi selama 34 jam, tetapi terus terjadi selama 10 hari dengan mass discharge 1 miliar kg/detik. Eruption plume telah membentuk perisai di atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur 5-10 derajat selama 10-20 tahun.
Begitulah, Escher dan Verbeek menyelidiki ada erupsi Krakatau Purba; dokumen2 sejarah dari Indonesia (Pustaka Raja), Siria, dan Cina mencatat sebuah bencana yang sangat dahsyat terjadi di abad 5 atau 6 Masehi; ice cores di Antarktika dan Greenland mencatat jejak2 ion sulfate volkanik dengan umur 535-540 AD, peristiwa2 Abad Kegelapan d seluruh dunia terjadi pada abad ke-6, dan simulasi volkanologi erupsi Krakatau Purba : semuanya kelihatannya bisa saling mendukung untuk a Super Collosal Eruption of proto-Krakatau 535 AD.

sumber : OBIE JPERS dan *Sumber : Peradaban Nusantara* *Oleh : Awang H. Satyana*

"...Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang Menghidupkan dan yang Mematikan. (Dia-lah) Tuhan-mu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan. Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata." (Al-Qur'an surat 44 ayat 7-10)

walaupun dalam ayat diatas, "hari ketika langit membawa kabut yang nyata" yang dijelaskan dalam footnote Al-Qur'an ditujukan kepada kaum Quraisy atas bencana kelaparan yang menimpa karena menentang Nabi Muhammad Saw. tapi saya rasa, kita juga patut merenungi ayat tersebut atas beberapa peristiwa muntahan gunung-gunung berapi disekitar nusantara akhir-akhir ini. khususnya dari anak Gunung Krakatau. bukan tidak mungkin hal itu terjadi kembali, ketika banyak dari kita yang telah menyimpang dari ajaranNya. 

baiklah, masih ada 2 gunung lagi yang belum saya ceritakan...
ayo segera beli tiketmu, kita akan ke jawa timur sekarang.
tepatnya di perbatasan daerah Kediri dan Blitar. atau sekitar 27 km timur Kediri. 

3. Gunung Kelud.


Gunung Kelud merupakan gunungapi strato andesitik yang tergolong masih aktif, terletak di Jawa Timur . Letusan 1586 merupakan letusan yang paling banyak menimbulkan korban jiwa yaitu sebanyak 10.000 orang meninggal. Selama  abad 20 telah terjadi 5 kali letusan masing masing pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966 dan 1990 dengan jumlah korban jiwa seluruhnya mencapai 5400 jiwa.

Letusan  tahun 1901 
Letusan Gunung Kelud terjadi pada tengah malam antara tanggal 22 dan 23 Mei 1901. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 00.00 – 01.00. Selama dua jam aktivitas erupsi semakin meningkat dan pada pukul 03.00 letusan utama terjadi. Asap letusan pekat membumbung dari kawah Kelud, kemudian hujan lapilli mulai terjadi di sekitar Kelud. Segera setelah lapilli jatuh, diikuti dengan debu basah dan lumpur. Kejadian selanjutnya berupa hujan abu panas. Di Kediri abu panas mulai turun sekitar pukul 03.30 dan bau belerang tercium di segala tempat. Letusan terdengar sampai jarak jauh bahkan sampai di Pekalongan. Distribusi hujan abu sampai mencapai Sukabumi dan Bogor.

Letusan Mei 1901 ini terjadi setelah selang waktu sekitar 37 tahun masa tenang yaitu sejak letusan tahun 1864. Letusan ini terjadi masih berada di dalam kawah Kelut dan tidak mengakibatkan hancurnya dinding kawah. Informasi yang diperoleh menjelang letusan bahwa sekitar 12 hari sebelum letusan terlihat air danau kawah Kelut mendidih. Zona pendidihan tersebut membentuk lingkaran besar di permukaan danau kawah. Pada saat letusan sebagian air danau kawah terlemparkan. Diperkirakan terdapat volume air danau kawah sekitar 38 juta meter kubik sebelum letusan. Material padat yang dilemparkan gunung Kelut selama letusan kira- kira 200 juta meter kubik. Korban jiwa cukup banyak namun informasi tentang jumlahnya tidak jelas.

Pada tanggal 11 Juli 1907 dilakukan penggalian di lereng barat untuk mengurangi volume air danau kawah, namun demikian air danau kawah hanya berkurang setinggi 7,4 meter atau pengurangan volume sebesar 4,3 juta meter kubik.

Letusan tahun 1919
Letusan tahun 1919 merupakan bencana terbesar yang dihasilkan oleh aktivitas gunung Kelut pada abad ke 20, yang mengakibatkan sekitar 5160 orang meninggal. Letusan terjadi pada  tengah malam antara tanggal 19 dan 20 Mei 1919 yang ditandai dengan suara dentuman amat keras bahkan terdengar sampai di Kalimantan. Sekitar pukul 01.15, terdengar suara gemuruh yang sangat keras dari arah gunung Kelut . Diperkirakan pada saat itulah terjadi letusan utama. Beberapa saat kemudian hujan abu mulai turun. Selain hujan abu, di daerah perkebunan di lereng Kelut terjadi hujan batu dan kerikil. Di Darungan hujan batu cukup hebat sehingga sebagian besar atap rumah hancur.
Hujan  abu menyebar akibat tiupan angin terutama ke arah timur. Di Bali hujan abu terjadi pada tanggal 21 Mei 1919. Dari perhitungan endapan abu dapat ditaksir bahwa sekitar 284 juta meter kubik abu terlemparkan, jumlah ini setara dengan sekitar  100 juta meter kubik3 batuan andesit. Secara keseluruhan diperkirakan 190 juta meter kubik material telah keluar dari perut gunung Kelud.

Bencana letusan Gunung Kelud itu sendiri berasal dari kejadian lahar panas yang menyertainya. Sebelum letusan, volume air danau kawah mencapai 40 juta meter kubik, air sejumlah itu terlempar keluar kawah pada saat letusan. Lahar yang terbentuk merupakan lahar primer yang terjadi secara langsung oleh air danau kawah yang tertumpahkan pada saat letusan . Sekitar pukul 01.30 aliran lahar yang merupakan campuran dari air panas, lumpur, pasir, batu- batuan memasuki kota Blitar menciptakan kehancuran yang hebat. Kecepatan lahar yang mengalir di kota Blitar sekitar 18 m/detik atau sekitar 65 km/jam. Jarak maksimum aliran lahar primer mencapai 37,5 km (dihitung dari puncak Kelut). Letusan 1919 ini mengakibatkan 104 desa rusak berat, kerusakan sawah,tegal,pekarangan dan perkebunan kopi,tebu dan ketela mencapai 20.200 bau (5050 hektar) dan korban binatang sebanyak 1571 ekor.

Bencana letusan 1919 memberikan pelajaran bagi pemerintah saat itu untuk mengurangi volume air yang ada di danau kawah. Dari pengamatan yang dilakukan antara tahun 1901 sampai 1905, diperkirakan air yang masuk ke danau kawah mencapai rata- rata 6,5 juta meter kubik3 per tahun. Air yang cukup  banyak yang selalu menjadi jaminan bahwa kawah Kelut akan selalu menjadi danau itu harus dikeluarkan sehingga volume air akan terjaga pada volume yang tetap kecil. Mulai tahun 1920 dibangun terowongan pembuangan air dengan panjang sekitar 980 meter dan garis tengah 2 meter. Terowongan tersebut di buat mulai dari kawah menuju barat untuk mengalirkan air danau kawah ke Kali Badak, namun demikian kecelakaan yang disebabkan oleh runtuhnya dinding kawah menyebabkan pekerjaan pembuatan terowongan dihentikan pada tahun 1923. Pekerjaan kontruksi terowongan akhirnya selesai tahun 1924. Dengan adanya terowongan tersebut, ketinggian air dapat dikurangi sebesar 134,5 m dengan volume tersisa hanya sebesar 1,8 juta meter kubik.

Letusan tahun 1951
Dua kali gempa terasa terjadi sekitar 3 minggu sebelum letusan. Letusan terjadi pada tanggal 31 Agustus 1951. Pukul 06.15 terlihat asap tebal berwarna putih keluar dari puncak Kelut. Makin lama makin besar dan disertai dengan suara gemuruh. Beberapa saat kemudian, sekitar pukul 06.30, terdengar suara letusan. Sesaat terlihat asap tebal kehitaman membumbung dari kawah Kelut condong ke selatan. Sekitar 4 suara dentuman terdengar dari Wlingi. Tiga puluh menit kemudian di Margomulyo terjadi hujan batu sebesar buah mangga dan abu. Pandangan mata hanya dapat mencapai 3 – 4 meter. Informasi dari Candisewu menyebutkan hujan batu yang berlangsung sekitar 1 jam, disamping itu juga terasa gempa sebanyak 2 kali. Abu tercatat turun sampai di Bandung. Pengamatan menyebutkan bahwa pada saat letusan terjadi angin kencang ke arah barat. Diperkirakan sekitar 200 juta meter kubik material dilontarkan selama letusan.

Sebab terowongan telah dibangun maka volume air danau kawah sebelum letusan hanya sekitar 1,8 juta meter kubik. Pada saat letusan, air tersebut sebagian besar diuapkan dan tidak mengalir sebagai lahar primer besar. Kejadian lahar besar sebagaimana pada letusan 1919  tidak terjadi. Lahar kecil hanya mencapai jarak maksimal sekitar 12 km jauh lebih kecil dari lahar primer 1919 yang mencapai jarak maksimal sekitar 37 km. Terdapat korban letusan sebanyak 7 orang meninggal, tiga diantaranya adalah pegawai Dinas Vulkanologi yang bertugas yaitu Suwarnaatmadja, Diman dan Napan. Sedangkan yang luka-luka sebanyak 157 orang. Sekitar 320 hektar areal perkebunan dan kehutanan rusak.

Gejala menjelang letusan telah diamati sebelumnya yaitu suhu air kawah naik dari sekitar 28°C pada bulan Pebruari 1951 menjadi sekitar 40,8°C pada bulan Agustus 1951. Kenaikan suhu air tersebut berlanagsung dalam dua tahaap secara perlahan dari bulan Pebruari ke pertengahan Agustus (dari 28°C – menjadi 38,5°C) namun terjadi kenaikan suhu air yang cepat mulai tanggal 19 Agustus 1951 dan mencapai 40,8°C pada tanggal 24 Agustus, sekitar seminggu sebelum letusan. Pada keadaan suhu maksimal tersebut warna air danau mulai berubah dari hijau tua ke hijau muda kekuningan. Gelembung dan bualan bertambah banyak dan semakin melebar. Penurunan suhu air tercatat pada tanggal 26 Agustus. Diperkirakan, karena tidak ada data sesudahnya sampai kejadian letusan terjadi penurunan secara pelan-pelan sejak tanggal 25 Agustus.
 
Letusan tahun 1966
Sesudah letusan tahun 1951, dasar kawah baru lebih rendah 79 meter dari pada dasar kawah sebelumnya. Penurunan dasar kawah ini menyebabkan volume air danau mencapai sekitar 21,6 juta meter kubik sebelum letusan 1966. Volume ini jauh lebih besar dari volume air sebelum letusan 1951 yang hanya 1,8 juta meter 3.

Letusan terjadi pada tanggal 26 April 1966 pukul 20.15 yang menyebabkan terjadinya lahar pada alur K.Badak, K.Putih, K.Ngobo, K.Konto, dan K.Semut. Korban manusia berjumlah 210 orang di daerah Jatilengger dan Atas Kedawung. Letusan ini menghasilkan tephra sekitar 90 juta meter 3.

Seismograf yang berada di Pos Margomulyo mencatat gempa pada 15 menit menjelang letusan. Warna air danau menjelang letusan juga berubah, dimana sebulan sebelum letusan air yang semula berwarna hijau tua berubah menjadi hijau kekuningan dan perubahan tersebut merata di seluruh permukaan kawah. Dua hari menjelang letusan teramati bahwa warna air berubah kembali seperti semula. Perkembangan perubahan suhu air kawah tidak teramati demikian pula tumbuhan di sekitar mulut kawah tetap segar saat menjelang letusan.

Letusan tahun 1990
Letusan terjadi pada tanggal 10 Februari 1990, letusan ini merupakan kejadian letusan G.Kelut yang dipantau dengan seksama oleh Direktorat Vulkanologi yang tergabung dalam suatu tim khusus yang disebut sebagai Tim Vulkanik G.Kelut. Pemantauan yang dilakukan menggunakan berbagai metoda yaitu seismik, pengukuran suhu, geolistrik potensial diri, dan pemantauan visual EDM dan Tiltmeter.

Volume air danau yang hannya sekitar 1,8 juta meter kubik merupakan faktor yang membuat tidak terjadinya lahar panas pada letusan kali ini. Sebagaimana pada letusan 1951 volume air yang kecil tersebut teruapkan ketika terjadi letusan. Letusan terjadi secara beruntun mulai pukul 11.41 sampai 12.21 wib.

Tahap awal dari letusan merupakan fase freatomagmatik yang mengakibatkan sebaran abu tipis di sekitar puncak, sedangkan letusan berikutnya lebih besar dengan lemparan pasir, lapilli, dan batu yang tersebar pada radius 3,5 km 2   . Jarak jangkau 1,5 km ke arah timur dan sekitar 5 km ke arah barat, barat laut dan barat daya. Letusan utamanya berupa letusan plinian dengan awanpanas menyusuri lembah di baratdaya sejauh 5 km dari kawah. Letusan tersebut berintensitas sedang dengan tephra sekitar 130 juta meter 3.

Daerah yang rusak tidak terlalu luas, hanya dalam jangkauan radius sekitar 2 km dari kawah, namun demikian sebaran abu letusan jauh lebih luas dan diperkirakan mencapai luasan sekitar 1700 km 2. Kerusakan rumah penduduk dan fasilitas publik pada umumnya disebabkan oleh hujan abu tersebut. Sekitar 500 rumah dan 50 gedung sekolah rusak, kerusakan terjadi dalam isopach 10 cm yaitu pada jarak maksimum sekitar 15 km dari puncak, korban manusia tercatat 32 orang.

Gejala menjelang letusan teramati pada bulan November 1989 yaitu adanya peningkatan suhu air danau kawah dari sekitar 31 - 34° C menjadi sekitar 35° C. Suhu permukaan air danau kawah ini secara rata- rata mengalami peningkatan terus sampai saat terjadinya letusan, bahkan sampai sekitar 41° C menjelang letusan. Warna air danau kawah berubah dari hijau muda jernih menjadi hijau muda agak putih. Tingkat keasamaan air danau meningkat dari pH sekitar 5,5 – 6 pada bulan Oktober 1989 berangsur semakin asam sampai mencapai pH 4,2 pada bulan Januari 1990.

Peningkatan aktivitas seismik mulai terlihat pada tanggal 9 November 1989, yang ditandai dengan kenaikan jumlah Gempa Vulkanik yang biasanya kurang dari satu kejadian perhari menjadi 9 kejadian Gempa Vulkanik perhari pada tanggal 9 November 1989. Kemudian pada tanggal 20 November 1989 gempa vulkanik bahkan tercatat sebanyak 40 kali. Jumlah gempa harian kemudian mengalami penurunan dari tanggal 22 November sampai minggu pertama Januari 1990. Secara rata- rata penurunan tersebut terjadi dari  sekitar 12 gempa per hari pada sekitar tanggal 27 November 1989 sampai hanya sekitar 1-2 gempa per hari pada awal Januari. Penurunan kejadian gempa ini diakhiri dengan munculnya tremor antara tanggal 3 – 9 Januari 1990. Kejadian tremor ini yang mengakhiri kecenderungan penurunan dan juga menjadi awal peningkatan secara mencolok aktivitas kegempaannya. Dari tanggal 14 januari sampai 21 januari merupakan episode dimana aktivitas gempa vulkanik cukup intensif.

Tanggal 22 Januari sampai 8 Februari merupakan periode tenang. Gempa vulkanik tidak lebih dari 5 gempa  per hari. Pada periode ini terjadi peningkatan derau akustik di dalam danau kawah . Intensitas derau meningkat sekitar 4 kali lipat dari rata- rata ambang sebelumnya.
Kejadian letusan diawali dengan munculnya swarm gempa vulkanik pada tanggal 9 Februari pada pukul 12.17 wib. Secara cepat gempa meningkat dan pada tanggal 10 Februari muncul tremor vulkanik pada pukul 09.32 dengan amplitudo yang semakin membesar dan berlanjut pada kejadian letusan.





Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.
Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelut kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.
Akibat aktivitas tinggi tersebut terjdi gejala unik yang baru terjadi dalam sejarah Kelut dengan munculnya asap putih dari tengah danau diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.
Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3).

then, we should be more care full about this mountain.. 
think about what we have done to prepare the afterlife.. 

gunung terakhir yang akan saya ceritakan akan membawa anda ke wilayah atau propinsi dimana sekarang saya berada.. 
YAK!! Jawa Barat... 

5. Gunung Papandayan

Papandayan adalah sebuah gunung api semi-aktif. pada 1772,gunung api ini meletus menghancurkan 40desa di dekatnya. Lebih dari 3000 orang terbunuh. Gunung api ini diperkirakan masih sangat berbahaya dan terus mengeluarkan asap dan letusan-letusan di tahun 1923,1942, dan terus meningkatkan kekuatannya di tahun 2002. 
Rekaman sejarah letusan Gunung Papandayan mencatat setidaknya telah terjadi empat kali erupsi sejak tahun 1600, yaitu pada tahun 1772, 1923-1925, 1942, dan pada tahun 2002. Leupe (1773) dan Hageman (1823) melaporkan kejadian letusan pada bulan Agustus 1772, yaitu terjadi beberapa kali letusan besar dalam waktu 5 menit, yang disusul oleh runtuhan bagian dari tubuh gunung api ini (debris avalanche), yang melanda kawasan seluas 250 km2, memusnahkan 40 desa, dan menimbulkan korban jiwa 2.951 orang. Keruntuhan dinding kawah Gunung Papandayan ini pada tahun 1772 diperkirakan terjadi karena dipicu oleh tekanan kegiatan kubah lava (crypto-dome Kawah Emas ?). Aktivitas magmatik dicirikan oleh kehadiran unsur isotop Belerang (S) disertai proses alterasi hidrotermal yang intensif dan berkelanjutan (masih berlangsung hingga saat ini). Hal ini dicerminkan oleh kegiatan solfatara dan fumarola di sekitar kubah Kawah Emas (Pratomo, 2004; Mazot & Bernard, 2004). Taverne (1925) melaporkan bahwa terjadinya seri letusan Gunung Papandayan pada tahun 1923 sampai 1925 pada umumnya merupakan seri letusan uap (phreatic eruptions), yang membentuk Kawah Baru dan Kawah Nangklak. 

Pada Tahun 2002 kembali terjadi erupsi yang diawali oleh letusan freatik pada tanggal 11 November 2002 pukul 16.02 WIB, disusul oleh terjadinya longsoran dinding bagian utara kawah Nangklak pada pukul 16.40. Longsoran ini terjadi karena keadaan tebing kawah telah mengalami pelapukan hidrotermal, jenuh oleh air hujan (sedang musim penghujan) dan dipicu oleh gempa bumi yang terjadi beberapa jam sebelumnya (pukul 04.52 dan 04.54), serta getaran yang terjadi akibat letusan freatik yang terjadi sejak pukul 16.02. Seri erupsi ini berlangsung selama sepuluh hari,dan diakhiri dengan sebuah letusan tipe Volcano yang disertai dengan hempasan lateral (directed blast) dan runtuhan (debris avalanche) sebagian dinding bagian dalam dari Kawah Nangklak pada 20 November 2002). Dampak letusan ini merusak kawasan dalam radius lebih kurang 1 km dari pusat letusan, tetapi tersebar hanya di dalam kawasan kawah saja (Pratomo, 2004; Purbawinata drr., 2004). Runtuhan bagian dinding kawah (debris avalanche) di Gunung Papandayan pada tahun 1772 adalah yang terbesar menurut catatan sejarah gunung api di Indonesia. 

Kejadian serupa pernah terjadi juga di Gunung Galunggung pada 4000 tahun yang lalu (Wirakusumah, 1982), yang menyisakan kawah berbentuk tapal kuda (horse-shoe-shape crater) yang kita kenal sebagai Dindingari, dan sejak saat itu kegiatan gunung api ini terpusat di kawah Walirang (Karso ?). Terbentuknya kawah tapal kuda Gunung Galunggung pada 4000 tahun yang lalu berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava dari dalam tubuh gunung api tersebut (Crypto-dome), karena desakan tubuh gunung api Gunung Galunggung purba. Mekanisme kejadian ini diperkirakan mirip dengan kejadian erupsi Gunung St. Helens pada tahun 1980. Letusan terakhir Gunung Galunggung terjadi pada tahun 1982-83, yang berlangsung secara sporadis selama lebih kurang delapan bulan, menghancurkan kubah lava Gunung Jadi dan meninggalkan danau kawah serta sebuah kerucut sinder di tengahnya.

sumber: Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 4 Desember 2006: 209-227 (Klasifi kasi gunung api aktif Indonesia, studi kasus dari beberapa letusan gunung api dalam sejarah oleh INDYO PRATOMO. Museum Geologi, Pusat Survei Geologi, Jln. Diponegoro No. 57, Bandung, Indonesia)

begitulah sekilas cerita saya tentang beberapa gunung di negeri kita, Indonesia yang letusannya tercatat oleh banyak jurnal baik dalam dan luar negri yang menganggap bahwa muntahan-muntahan abu vulkaniknya sangat dahsyat. Dari 4 ribu lebih gunung berapi yang tersebar diseluruh bumi ini, 125 diantaranya ada di Indonesia.
dan menurut jurnal geologi ada 8 gunung api aktif di Indonesia yang masih mempunyai potensi untuk meletus lagi, diantaranya; Tambora, Batur, Papandayan, Kelud, Merapi (jawa tengah), Agung, Sangeangapi dan Anak Krakatau. 

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." QS. 2:164

dalam surat Ibrahim di Al-Qur'an, dijelaskan bahwa tiap-tiap masa mempunyai tantangan sendiri dan jawabannya sendiri-sendiri. letusan gunung-gunung berapi ini adalah salah satu contohnya menurut saya. 

"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)." QS. 14:39
"Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan Dia-lah yang maha cepat Hisab-nya." QS. 14:41

kekuasaan Allah meliputi alam semesta, dan alam yang kita huni sekarang ini merupakan suatu kesatuan yang membuktikan kekuasaan Maha Pencipta. gunung-gunung adalah salah satu bentuk kekuasaan Allah, mereka bertasbih, sujud dan patuh kepada Allah, maka ketika mereka meletus juga atas perintah Allah. sebagai bukti peringatan kepada manusia yang berpikir. maka nikmat mana lagi yang kita ingkari wahai sahabat? 

"Dan Dia telah Memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung Nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya, sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." QS. 14:34


dan saya hanyalah manusia biasa yang punya salah sana-sini.
jika ada kesalah dalam penulisan ini, saya sangat berharap untuk ada yang mengoreksi.
yang akan membuat saya terus belajar dan belajar... ^^

1 comment: